Rabu, 25 Desember 2013

E-Learning: Dinamika Pendidikan dan Praktiknya

E-Learning: Dinamika Pendidikan dan Praktiknya
Sri Maryani, S.Pd.

Sejarah sekolah di Indonesia dimulai dari pendidikan nonformal sejak zaman Hindu, kemudian diikuti oleh sekolah-sekolah formal yang dimulai pada masa awal penjajahan Kolonial yang pada awalnya hanya dikhususkan untuk orang-orang Belanda. Jauh sebelum itu, pendidikan telah banyak diajarkan dari orang tua pada anak-anaknya atau para ahli kitab pada pemeluk kepercayaan. Bagaimanapun bentuknya, sekolah merupakan wadah penting untuk mencetak generasi cerdas yang akan melahirkan pemikiran-pemikiran terbaik.
Pendidikan pada awalnya menggunakan pola klasik. Pembelajaran klasik menjadikan guru sebagai pusat informasi. Guru menyampaikan dan siswa menerima informasi. Pembelajaran menjadi kegiatan transfer ilmu satu arah yang tersekat oleh ruang kelas dengan metode yang terbatas. Kelengkapan pembelajaran terbatas pada papan tulis, kapur tulis, dan buku ajar. Dinamika pembelajaran mengubah media secara bertahap. Papan tulis, black board berganti dengan white board, kapur berganti dengan spidol. Papan manual kemudian berganti layar LCD, dominasi spidol berganti rupa-rupa slide presentasi power point, flash, atau director dengan laptop sebagai otak operasi. Buku ajar bukan sumber ajar tunggal lagi. Inilah yang dimaksud dengan dinamika masa, pergeseran budaya pendidikan yang berbanding lurus dengan perkembangan budaya di masyarakat.
Dinamika pendidikan ini kemudian membuka sekat pendidikan formal yanga asalnya tertitik berat pada pendidikan formal di ruang kelas menjadi pembelajaran di mana saja dan kapan saja. Di masa mendatang penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh (distance learning) bisa jadi tak terbatas. Para pembelajar bisa menikmati pembelajaran di mana saja dan di sinilah E-Learning berperan.
Dinamika pendidikan membuka celah pembelajaran tak terbatas melalui program E-learning. Pembelajaran berbasis media elektronik sebagai medium untuk ketersampaian ilmu dan penggalian ilmu yang lebih dalam lagi. Karena, pada hakikatnya proses pembelajaran bukan sebatas mengetahui, tapi juga menemukan lebih lanjut lagi yaitu apabila bisa dapat mengembangkan.
Praktik Konkret E-Learning
Banyak buku, artikel, seminar yang telah mengkaji tentang E-Learning. E-Learning sebagai pembelajaran berbasil media elektronik memerlukan pengenalan, pengembangan, optimasi, dan penyiapan SDM yang ahli. Dalam praktik pembelajaran di sekolah, E-Learning mulai dikembangan di sekolah. Salah satu icon media E-learning yang favorit digunakan adalah internet.
Mobilitas hidup semakin tinggi dan semakin banyak sumber informasi yang bertebaran membuat proses penyerapan informasi tidak hanya cukup sebatas membaca buku teks secara fisik. Program internet banyak digunakan untuk media pembelajaran di antaranya jejaring sosial seperti facebook, twitter, linkedin atau juga ruang catatan online seperti blogger, tumbler, wordpress, dsb.
Dabbagh dalam handout materinya Using Blogs as a teaching and Learning Tool mendefinisakan bahwa blog adalah format publikasi mikro atau pendokumentasian pikiran tentang sebuah isu ke dalam web. Dabbagh juga menyebutkan bahwa blog sebagai jurnal spontan. (Maryani, 2011)
Pada tahun 2011 sebuah penelitian pernah dilakukan penulis di SMAN 3 Bandung untuk menguji efektivitas pemanfaatan blog sebagai media portofolio virtual. Penelitian ini yang kemudian menjadi kajian dalam skripsi penulis. Konsep sederhana pengembangan media dapat digambarkan sebagai berikut.
Dok: Pribadi
Kecenderungan manusia untuk mengeksiskan diri seperti yang selama ini terlihat dengan menjamurnya pengguna media sosial dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil pembelajaran. Gambaran E-Learning yang dilakukan sesuai skema di atas adalah sebagai berikut. Penulis membuka blog pusat pembelajaran menulis cerpen. Link media pembelajaran yang digunakan yaitu http://penacerpen.blogspot.com sebagai media pusat kemudian dilingkfest ke jejaring sosial sebagai media diskusi dan update informasi dengan alamat https://www.facebook.com/groups/blog3anginpasat/
Head Blog (Dok: Pribadi)




Linkfest FB sebagai media komunikasi (Dok: Pribadi)

Dalam blog pusat terdapat alamat-alamat blog siswa yang dapat diakses oleh guru setiap saat di manapun. Selain itu, linkfest ke media sosial facebook menjadi keasyikan tersendiri karena siswa dapat membuka diskusi lebih santai dan terbuka. Mereka saling mengkritisi kemudian tertantang untuk terus menuis walau tidak ada penugasan. Alhasil jadilah murid-murid yang produktif dalam berkarya. Setelah dilakukan penelitian diperoleh beberapa data sebagai berikut.
Penelitian dilakukan di dua kelas yaitu kelas eksperimen (kelas yang menggunakan blog) dan kelas kontrol.  Di kelas eksperimen terlihat siswa yang memublikasikan atau mengumpulkan tugas lebih cepat daripada kelas kontrol. 21% dari total sampel eksperimen produktif menulis dibandingkan kelas kontrol yang hanya 4%.
Dok: Pribadi
Dok: Pribadi



          Hasil penelitian tersebut menunjukkan peluang penerapan E-Learning dalam pendidikan sangat terbuka lebar. Namun, bersama peluang tersebut ada juga beberapa tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan E-Learning. Yang pertama adalah bagaimana memahamkan guru dan murid tentang konsep e-learning. Karena selama ini, e-learning hanya sebatas E-Tugas dalam artian guru seringkali memanfaatkan salah satu media e-learning yaitu internet sebatas hanya untuk mencari sumber data untuk tugas. Padahal internet dapat digunakan sebagai media portofolio virtual untuk menyimpan materi pembelajaran juga tempat mendokumentasikan dan mempublikasikan karya yang tepat.
Dok: Pribadi
        Selain itu, tantangan e-learning berikutnya adalah sebaran teknologi yang belum begitu merata ke seluruh pelosok Indonesia. Oleh karena itu, sebenarnya terbuka lebar untuk perusahaan-purasaan telekomunikasi untuk mengembangkan tantangan ini menjadi sebuah peluang untuk mencerdaskan bangsa misalnya dengan program Internet Masuk Desa (IDM) juga pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan skill (keahlian teknis) yang menunjang e-learning. Tantangan lainnya yaitu e-learning harus diterapkan diiringi dengan meningkatkan motivasi/inisiatif siswa oleh guru. Siswa masih memiliki kecenderungan gerak secara bebas memanfaatkan media sesuai kemauan mereka. Guru perlu mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan tepat.

            E-learning sebagai kegiatan pebelajaran berbasis media elektronik secara online masih membutuhkan kombinasi dengan pembelajaran off-line sebagai kontrol. Inilah yang disebut Blended Learning yang akan tetap menjaga keterlibatan siswa dalam proses yang humanis.

       E-Learning masih akan berkembang terutama ke arah teknologi mobile. Sebagai suatu fenomena yang sedang digandrungi saat ini, teknologi mobile berpeluang besar mejadi medium E-Learning yang membantu siswa lebih luwes menikmati pendidikan sebagai sarana untuk memperdalam keilmuan juga menghasilkan karya. Guru seharusnya menangkap ini sebagai alternatif dalam mengembangan suatu mekanisme pembelajaran yang interaktif dan linear dengan dinamika pendidikan yang terjadi. Pun begitu perusahaan telekomunikasi baik itu alat komunikasi juga perusahaan penyedia jaringan. Ini mungkin yang dimaksud peluang dalam dinamika pendidikan kita.


Referensi:
Maryani, Sri. 2011. Efektivitas Pemanfaatan Media Blog dalam Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam   Pembelajaran Menulis Cerpen (Kuasi Eksperimen Pada Siswa Kelas X Sma Negeri 3 Bandung Tahun Ajaran 2010/2011). Bandung: Tidak Diterbitkan (Skripsi)

http://www.bunghatta.ac.id/artikel/54/teknologi-informasi-dalam-dunia-pendidikan.html [25 Desember 2013]

http://idelearning.com/masa-depan-e-learning-dalam-dunia-pendidikan/ [25 Desember 2013]

http://www.ica-sae.org/trainer/indonesian/p11.htm [25 Desember 2013]




Senin, 29 Juli 2013

Ramadhan dan Catatan Akhir Bulan Juli

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Penghujan hampir tandas melintasi Juli. Beberapa kabar bahagia dari kawan dan kakak tingkat yang akan menggenapkan diri menjadi catatan bahagia tersendiri di penghujung Juli ini. Setelah berjibaku dengan padatnya kegiatan pembelajaran di sekolah dan beragam kegiatan asrama, menunggui murid-murid dijemput pulang liburan Ramadhan menjadi keasyikan sendiri. 

Ramadhan di penghujung Juli yang basah mempertemukan kami para wali kelas murid SMPIT As-Syifa Boarding School dengan para orang tua murid yang begitu interes terhadap pendidikan hingga membuat kami berdiskusi panjang tentang psikologi murid-murid kami di sekolah, rencana konseling mereka, dan beberapa program komunikatif lainnya. Sebetulnya ini menjadi pengalaman yang mengasyikan, walau pada awalnya saya sendiri sempat ragu menjadi wali kelas anak-anak putra apakah dapat dijalani atau tidak. Namun, pertemuan bersama orang tua kemarin, setidaknya cukup membuat saya lega karena saya tidak sendiri mendampingi anak-anak. Saya bersyukur untuk setiap kemafhuman mereka dan kebersediaan mereka untuk menjadi teman berdiskusi yang baik dalam perjalanan pendampingan kelas setahun ke depan.

Sekolah dan asrama yang begitu riuh oleh kegiatan mereka kini mendadak senyap. Untuk sejenak, kala libur Ramadhan tiba maka warna-warni kegiatan murid-murid di kampus peradaban dialihkan ke tempat dimana mereka menikmati riuh lebaran. Namun, meskipun begitu Ramadhan senantiasa dihidupkan dengan target khatam Al-Qur'an, Tarawih, I'tikaf, dan kegiatan pendulangng amal lainnya.
Senam Pagi adalah salah satu aktivitas menyehatkan ala murid SMPIT As-Syifa Boarding School

Ramadhan memasuki putaran terakhir dari 3 fase waktu yang telah dijanjikan Allah. 10 hari terakhir yang karenanya pintu neraka ditutup serapat-rapatnya. Sebelumnya, 10 hari pertama disebut hari-hari rahmat dan 10 hari ke-2 yang disebut hari-hari maghfirah atau ampunan. Kegiatan Ramadhan yang berkah ini seharusnya tidak dicoreng oleh tindak kriminial. Namun, kenyataan memang berkata demikian. Bagi sebagian orang, Ramadhan dijadikan ajang mendulang rejeki yang tidak halal. Banyak pemudik yang kemudian menjadi korban. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, maka pemerintah dan satuan pengamanpun setia mengawal kekhidmatan Ramadhan dengan operasi ketupat.

Memasuki putaran 10 hari terakhir Ramadhan ini, juga menorehkan rasa rindu mendalam untuk bersegera MUDIK atau mulang ke udik menjumpai keluarga yang kian jarang dijumpai. Sambil menunggu waktu libur tiba sambil tetap mawas memantau berita. teraspos.com setidaknya cukup membuat kita bernafas lega sebab pemerintah dan satuan pengamanan sudah mulai sigap mengamankan arus pulang.

Juli telah hampir habis. Masih dengan hujan yang makin anomali. Ramadhan menjadi catatan pembelajaran tersendiri untuk menjadi orang kuat ketika berulang kali fisik diuji sakit seolah  dipaksa tunduk pada ringkih. Ramadhan juga menjadi catatan pembelajaran tersendiri untuk menahan diri, mengendalikan perasaan takut, sedih, marah, dan gembira yang berlebihan. Belajar untuk tak banyak bicara dan bertanya hal-hal yang tak berguna dan dari sikap yang tidak menyenangkan dan menyakiti orang.

Ramadhan mengajarkan kita untuk menjalani semua dengan sederhana dan berperilaku sehat. Nampaknya bisa jadi sebuah pilihan, meninggalkan minuman dingin dan makanan yang banyak mengandung kolesterol,  mulai mengganti kopi instan dengan kopi tubruk, juga memperbanyak minum air putih.

Di penghujung Juli, berderet-deret catatan rencana juga evaluasi yang berkali-kali dicoret-diulang-dicoret-diulang. Tak sadar berkali memakinya, meratapi, di sisi lain tertawa geli karenanya. Mungkin itu yang disebut oleh seorang kawan sebagai sudut pandang. Bisa jadi karenanya, moment yang berulang sama tetapi memiliki nilai rasa yang berbeda. Dasar pemikiran itu pula mungkin yang melatar belakangi Edwar de Bono mengembangakn Six Thinking Hats dalam problem solving. Apa warna topimu? Metode ini sangat menyenangkan diterapkan dalam studi kasus oleh anak-anak di sekolah.

Catatan akhir Juli dan hari-hari terakhir Ramadhan mengajarkan kita untuk menjadi pembelajar yang terbaik. Kehidupan menempa kita, kadang menjadi seperti wortel, seperti telur, atau seperti kopi ketika bertemu dengan air panas. Melembek, mengeras, atau mewangi. Masing-masing kita mempunyai cara untuk berbahagia. Tidak terlalu senang, sedih, marah, dan tidak berharap lebih.

Hidup itu sederhana. Hidup itu bukan untuk selalu nampak istimewa di depan orang lain. Hidup hanyalah tarik dan buang nafas dan apa yang kita lakukan di antara keduanya, ungkap seseorang. Dan "Di antara" nya itulah mungkin sama dengan penghujan di bulan Juli ini. Penuh anomali. Bahkan memelesetkan "ramalan" Pak Sapardi tentang Hujan Bulan Juni nya. Maka, Akhir Juli ini pun harus dinikmati sambil menikmati Ramadhan dengan segala amalan terbaik kita. Semoga kita menjadi lulusan terbaik Ramadhan tahun ini.

Sabtu, 20 April 2013

Hari Perempuan Indonesia

21 April adalah hari perempuan Indonesia
Masyarakat sering menyebutnya sebagai hari Kartini karena beliau dipandang sebagai pejuang perempuan.
Padahal, banyak sekali Perempuan pejuang di bangsa kita ini.
Kartini berjuang dengan penanya..

Cut Nyak Dien, perempuan pejuang dari Aceh yang dibenci belanda karena sikap tegasnya ini, turun ke Medan laga perjuangan. Ia seorang perempuan yang tak ingin dikesampingkan haknya untuk memperjuangkan kemerdekaan.
Ia, pejuang, yang sampai akhir hayatnya tak mencium kembali tanah kelahirannya.
Ia rela wafat dengan terhormat di tanah asing bernama Sumedang.

Kita sebut Dewi Sartika, Perempuan pejuang dari tanah Pajajaran...
Ia sang penyuara pendidikan....

Kita sebut Cristina Martha Tiahahu, perempuan pejuang dari tanah Maluku yang pada usia 17 tahun sudah mengangkat senjata melawan penjajah.


Maka hari ini, tanggal 21 April adal Hari Perempuan Indonesia yang pejuang. Memperingatinya tidak cukup bersolek dan membalutkan kebaya ke badan, selang beberapa jam lalu melepas dan melupakannya.

Puisi ALAM

Alam
Karya Bahrul Hidayat
Siswa kelas VII SMPIT As-Syifa Boarding School


Hutan-hutan membentang luas
Rumput hijau tersebar menjadi alas
Gunung-gunung menjulang ke atas

Sejuk udara di pagi hari
Langit biru yang sangat tinggi
Binatang berlari-lari
Di tengah terik mentari
Biru pun ikut menemani
Di lahan yang sangat sepi

Tanah kayu batu memberi isyarat
Kalau penghujung hari sudah dekat
Namun semua sudah terlambat
Bagaikan daun habis dimakan ulat

Ilalang menari-nari
Angin datang melihati
Tanah tersinari matahari

Saat buldozer datang
Surga pun sesaat hilang
Diri menangis berulang-ulang
Berharap surga akan datang

JIka Munkar Nakir Bertanya, Apa yang Kelak kamu Jawab?

Setengah mempercepat langkah, saya masuk ke kelas VII Al Khawarizmi. Nyaris lupa bahwa jadwal telahlah berubah, saya ada kelas di jam pertama.
Pertemuan seblumnya mereka mengeksplorasi kemampuan mereka bermajas. Mereka bukan lagi menebak lagu-lagu yang mengandung majas. Saya ajak mereka membuat karikatur, komik, atau lirik lagu gubahan yang mengandung majas.
Pertemuan kali ini Materi "Wawancara"
Masuk kelas. Saya kira  materi ini tidak akan tuntas dalam satu waktu. Alhasil, hari itu saya konsep untuk membuat peta proyek yang harus anak-anak kerjakan.
Ada pembentukan kelompok, desain wawancara, dan menyusun kerangka pertanyaan berdasarkan unsur-unsur pembangun berita.
Hmm, seperti kesuksesan di angkatan satu tingkat di atas mereka, saya pun ingin mengulang metode kali ini di kelas VII. Saya ingin mengeksplorasi kemampuan mereka berkomunikasi, berdialog, dan mencari sesuatu secara detail.
Tak lama kemudian, setelah mereka selesai berkelompok. Mereka pun mulai memetakan simulasi wawancara yang akan mereka praktikan.
Seperti biasa saya berkeliling sekadar memastikan bahwa mereka benar sedang memetakan tugas atau sekadar berbincang singkat dengan mereka. Pertanyaan riuh silih berganti tentang konsep simulasi yang akan mereka tampilkan....
Tiba-tiba seorang anak, berseloroh menyebutkan nama temannya, Syahid. Bu, tema wawancara bebas kan? Iya, ini Syahid katanya mau tanya.
"Iya Syahid, kenapa?"
"Bu, boleh bebas kan? Bu, kalau wawancara tentang kuburan boleh tidak?" mata anak tersebut serius memandang saya dengan tak lupa senyum halus yang menjadi ciri khasnya. Matanya menatap penuh, sekadar memastikan saya akan merespon sepeti apa.
Saya masih kurang jelas menangkap apa yang dikatakannya.
"Maksudnya bagaimana, Syahid?"
"Iya, Bu. Wawancara dengan Munkar dan Nakir"

Entah kenapa tiba-tiba berdegup mendengar itu. Format sosiodrama akan seperti apa?

Merinding saya mendengarnya...
"Hmmm... Syahid, coba cari tema yang lain ya"
"Iya bu.." Mungkin ia pun tak begitu serius dengan niatnya..

Tapi pertanyaan syahid masih begitu terjaga di ingatan saya, wawancara dengan .....


*bersambung